Eliana Safitri lubis

Assalamualaikum wr.wb. Salam kenal sebelumnya dengan sahabat-sahabat guru se-Indonesia. Saya Eliana Safitri Lubis, S.Pd. Lahir di Medan. Menamatkan kuliah tahun...

Selengkapnya

Kembalilah ke Sekolah, Nak

Dava kembalilah ke sekolah, Nak! pintaku mengiba. Engkau punya masa depan. Jangan jadikan kesulitan ekonomi alasan untuk meninggalkan sekolah. Ah, Dava. Muridku yang pintar. Namun kurang dukungan orang tua. Beberapa kali aku datang ke rumah Dava. Ayahnya menyambutku dengan wajah datar. Tak ada senyuman. Sedangkan ibunya seorang perempuan yang tak berdaya. Pasrah pada waktu dan keadaan.

"Gimana mau saya paksa, Bu! ujar ibunya. "Kami butuh Dava untuk membantu kebutuhan ekonomi. Yah terpaksa Dava harus ikut membantu mencari nafkah" Ngarepin pulang sekolah ya ndak cukup. Penghasilan ayah Dava sebagai tukang tambal ban tak bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari. Lumayan, untuk beli beras dan sayur kalau Dava jualan rokok dari pagi hingga sore". Apa boleh buat, Bu sejak saya sakit-sakitan tak bisa membantu menopang ekonomi lagi. Saya sudah pasrah. Mungkin sudah jalannya.

Kesekian kali kumendengar kalimat yang sama dari ibu Dava. Dava bukan tak mau sekolah. Sangat mau. Namun ia harus membantu sang ayah memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Jika tambalan ayah banyak, keesokan harinya Dava pasti ke sekolah. Hanya dua hari saja kadang dalam sepekan. Lebih sering tidak sekolah. Namun jangan ditanyakan tentang pengetahuannya. Masalah politik, perkembangan ekonomi, isu sosial bahkan internasional. Dava orang yang paling tahu. Tak jarang aku dibuatnya terperangah ketika ia menyampaikan tentang isu pilkada, partai-partai pendukungnya dan sebagainya. Hebat benar analisanya. Pernah kutanya dari mana kamu mempelajari hal itu Dava. "Koran, Bu," ujarnya padaku "Saya belajar di jalanan, Bu sambil menunggu pembeli. Saya baca koran punya teman, gratis Bu. Berbagai jenis koran dan majalah. Dari sana saya melihat dunia". Sungguh praktik literasi yang baik. Pikirku. Malahan kadang di sekolah siswa-siswi enggan membaca buku. Apalagi disuruh baca koran. Banyak malasnya.

Sebagai wali kelas aku tentu sangat prihatin melihat kondisi Dava. Apalagi beberapa bulan ke depan akan dilaksanakan Ujian Nasional. Bukan khawatir nilai Dava, Tidak. Aku yakin Dava mampu bersaing di kelas. Terbukti dari nilai-nilai sebelumnya. Bahkan Dava pernah menjadi juara umum. Yang kukhawatirkan adalah ketika Dava tak akan pernah kembali ke sekolah. Yang kukhawatirkan adalah ketika orang tua Dava menganggap Dava tak perlu sekolah lagi. Cukup hanya berijazah SD.

Dava ingat pesan ibu ya, Nak. Kamu anak pintar. Kamu pasti paham. Kembalilah ke sekolah. Selesaikan studimu setinggi-tingginya. Ibu yakin kamu bisa. Yakinkan orangtuamu kamu bisa merubah keadaan melalui pendidikan. Tak cukup hanya sampai di Sekolah Dasar. Jangan lupa selalu berdoa agar Allah mudahkan semua urusanmu. Pesanku saat itu. Sambil memeluk Dava penuh kehangatan.

Tak terasa bulir air mata jatuh di sudut bibirku. Pagi itu, di pojok kelas. Hari ini di mana aku pensiun. Kulihat kembali pria itu. Ya, Dava muridku berpuluh tahun yang lalu. Berdiri dengan penuh kharisma memimpin apel pagi ini. Sebagai seorang pemimpin. Kepala sekolahku. Terimakasih muridku, akhirnya engkau kembali ke sekolah ini. Kembali dengan sejuta pesan yang terbantahkan.

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali